Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras terkait memburuknya situasi hak asasi manusia di Timur Tengah. Seruan ini disampaikan menyusul laporan kekerasan terhadap pengunjuk rasa damai di Iran serta jatuhnya korban anak-anak di Jalur Gaza.
PBB menilai dua peristiwa ini mencerminkan krisis kemanusiaan serius. Perlindungan warga sipil dinilai semakin terabaikan di tengah konflik dan represi yang berkepanjangan.
Kekerasan Demonstran di Iran Jadi Sorotan
Dewan Hak Asasi Manusia PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan aparat keamanan Iran. Gelombang demonstrasi yang awalnya dipicu tekanan ekonomi berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas.
Laporan PBB menyebut ratusan orang tewas dalam bentrokan. Ribuan demonstran juga dilaporkan ditangkap. Sebagian besar korban disebut tidak bersenjata.
Juru bicara Kantor HAM PBB, Jeremy Lawrence, menegaskan bahwa pembunuhan demonstran damai melanggar hukum internasional. Ia juga mengecam pelabelan demonstran sebagai teroris.
“Pelabelan ini tidak dapat digunakan untuk membenarkan kekerasan negara,” tegas Lawrence.
Kekhawatiran Hukuman Mati dan Peradilan Cepat
PBB juga menyoroti potensi penggunaan hukuman mati terhadap para pengunjuk rasa. Beberapa kasus disebut akan diproses melalui peradilan cepat.
Menurut Dewan HAM PBB, praktik tersebut mengancam prinsip keadilan dan hak atas pengadilan yang adil. Hukuman mati tidak boleh dijadikan alat pembungkaman kritik.
“Setiap individu berhak atas proses hukum yang transparan dan adil,” kata Lawrence.
Desakan Internasional terhadap Iran
Seruan PBB memperkuat tekanan global terhadap pemerintah Iran. Sejumlah negara mendesak penghentian kekerasan dan pembukaan ruang dialog dengan masyarakat.
Dewan HAM PBB juga mendorong Iran menerima pemantau HAM independen. Transparansi dinilai penting untuk mencegah eskalasi lanjutan.
Bagi PBB, situasi ini bukan sekadar isu domestik. Stabilitas kawasan turut dipertaruhkan.
Korban Anak di Gaza Jadi Perhatian Dunia
Di sisi lain, UNICEF melaporkan lebih dari 100 anak tewas di Gaza sejak gencatan senjata Oktober 2025. Korban meninggal akibat serangan udara dan tembakan.
UNICEF menilai situasi ini sangat memprihatinkan. Anak-anak kembali menjadi korban utama konflik bersenjata.
Selain korban jiwa, ribuan anak kehilangan akses pendidikan dan layanan kesehatan. Trauma psikologis juga meningkat.
Anak Selalu Jadi Korban Terbesar Konflik
UNICEF menegaskan bahwa setiap kematian anak merupakan kegagalan kolektif dunia internasional. Gencatan senjata seharusnya menjamin perlindungan warga sipil.
“Anak-anak bukan target dan harus dilindungi,” tegas UNICEF.
PBB meminta semua pihak mematuhi hukum humaniter internasional. Prinsip perlindungan warga sipil harus dijunjung tinggi.
Dua Krisis, Satu Pesan Kemanusiaan
PBB menilai kekerasan di Iran dan korban anak di Gaza mencerminkan pola pelanggaran HAM yang serupa. Kekerasan terus digunakan untuk menekan perbedaan.
Sekretaris Jenderal PBB menegaskan bahwa stabilitas hanya bisa dicapai melalui dialog. Penindasan tidak akan menghasilkan perdamaian jangka panjang.
Harapan PBB ke Depan
PBB mendesak Iran menghentikan kekerasan dan membebaskan tahanan yang ditangkap secara sewenang-wenang. Dialog inklusif dinilai sebagai jalan keluar terbaik.
Untuk Gaza, PBB menuntut perlindungan penuh bagi anak-anak dan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
PBB berharap dunia tidak tinggal diam. Setiap nyawa yang hilang menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus diutamakan di atas segalanya.
Baca Juga : Mendes Tegaskan Dana Desa Tak Dipotong, Ini Skema Barunya
Cek Juga Artikel Dari Platform : monitorberita

