Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Pakistan resmi berakhir tanpa kesepakatan.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan dirinya akan kembali ke negaranya tanpa membawa hasil dari negosiasi tersebut.
Negosiasi Berlangsung Lebih dari 20 Jam
Pertemuan antara kedua negara berlangsung cukup panjang.
Diskusi dilakukan selama sekitar 21 jam di Islamabad.
Pakistan berperan sebagai mediator dalam perundingan ini.
Vance Akui Tidak Ada Kesepakatan
Dalam pernyataannya, Vance mengakui hasil perundingan tidak sesuai harapan.
Ia menyebut kegagalan ini menjadi kabar buruk, terutama bagi Iran.
Menurutnya, pihak AS telah menyampaikan batasan dan syarat dengan jelas.
Isu Nuklir Jadi Hambatan Utama
Salah satu poin utama dalam negosiasi adalah soal program nuklir Iran.
AS menuntut komitmen tegas agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Namun, hingga akhir perundingan, komitmen tersebut belum didapatkan.
AS Tegaskan Sikapnya
Vance menegaskan bahwa posisi AS tidak berubah.
Negaranya menginginkan jaminan jangka panjang terkait penghentian pengembangan nuklir.
Hal ini menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan yang diharapkan.
Iran Belum Terima Syarat
Menurut Vance, Iran memilih untuk tidak menerima persyaratan yang diajukan.
Meski detail penolakan tidak diungkap, perbedaan pandangan masih sangat besar.
Hal ini membuat perundingan tidak mencapai titik temu.
Peran Pakistan Tetap Diapresiasi
Meski gagal mencapai kesepakatan, Vance tetap mengapresiasi Pakistan.
Ia menyebut Pakistan sebagai tuan rumah yang baik dalam proses mediasi.
Peran tersebut dinilai penting dalam menjaga jalur diplomasi tetap terbuka.
Masa Depan Negosiasi Masih Terbuka
Meski hasilnya belum sesuai harapan, peluang dialog masih ada.
AS menyatakan tetap membuka kemungkinan perundingan lanjutan.
Ke depan, dunia menanti apakah kedua pihak dapat menemukan titik kompromi.

