Negosiasi Keamanan Ukraina di Paris Dibayangi Fokus AS
Para sekutu Ukraina menggelar pertemuan tingkat tinggi di Paris untuk membahas masa depan keamanan negara tersebut setelah potensi gencatan senjata dengan Rusia. Pertemuan ini dipandang sebagai salah satu forum paling krusial sejak perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina, karena akan menentukan kerangka jaminan keamanan pascakonflik.
Namun, prospek tercapainya kesepakatan konkret dinilai belum sepenuhnya pasti. Perhatian pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang beralih ke krisis di Venezuela memunculkan kekhawatiran bahwa fokus Washington terhadap Ukraina dapat terpecah.
Optimisme Awal dari Paris
Sebelum perkembangan besar di Amerika Latin terjadi, Presiden Prancis Emmanuel Macron sempat menyampaikan optimisme terhadap pertemuan negara-negara yang tergabung dalam apa yang dikenal sebagai Coalition of the Willing. Selama berbulan-bulan, kelompok ini mendiskusikan langkah-langkah untuk mencegah potensi agresi Rusia di masa depan jika Moskow menyetujui penghentian perang.
Dalam pidato penutup tahun sebelumnya, Macron menyatakan bahwa para sekutu akan membuat komitmen konkret untuk melindungi Ukraina dan memastikan terciptanya perdamaian yang adil serta berkelanjutan. Pernyataan tersebut menumbuhkan harapan bahwa pertemuan di Paris dapat menghasilkan peta jalan keamanan yang jelas.
Skala Pertemuan yang Tidak Biasa
Kantor kepresidenan Prancis menyebut pertemuan ini dihadiri jumlah peserta tatap muka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebanyak 35 delegasi hadir, termasuk 27 kepala negara dan pemerintahan. Skala ini mencerminkan besarnya kepentingan geopolitik yang dipertaruhkan dalam pembahasan keamanan Ukraina.
Amerika Serikat diwakili oleh utusan khusus Presiden Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner. Awalnya, delegasi AS dijadwalkan dipimpin Menteri Luar Negeri Marco Rubio, namun rencana tersebut berubah karena alasan yang dikaitkan dengan situasi Venezuela.
Bayang-Bayang Krisis Venezuela
Perubahan komposisi delegasi AS terjadi setelah Washington melakukan langkah besar terhadap pemerintahan Venezuela. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan eskalasi kebijakan AS di kawasan Amerika Latin dinilai menyita perhatian Gedung Putih.
Situasi ini memunculkan pertanyaan di kalangan sekutu Ukraina mengenai sejauh mana komitmen jangka panjang AS dapat diandalkan. Bagi Kyiv, dukungan Washington dianggap krusial untuk mendorong keterlibatan aktif sekutu lainnya, baik di Eropa maupun di luar kawasan.
Lima Prioritas Keamanan Pascaperang
Para peserta pertemuan menargetkan hasil konkret pada lima prioritas utama setelah pertempuran berakhir. Prioritas tersebut meliputi mekanisme pemantauan gencatan senjata, dukungan berkelanjutan bagi angkatan bersenjata Ukraina, serta kemungkinan pengerahan pasukan multinasional di darat, laut, dan udara.
Selain itu, koalisi juga membahas komitmen kolektif jika terjadi agresi Rusia kembali, serta kerja sama pertahanan jangka panjang dengan Ukraina. Kerangka ini diharapkan dapat mencegah konflik terulang dan memberikan rasa aman bagi Ukraina dalam jangka panjang.
Tuntutan Kuat dari Kyiv
Ukraina menuntut jaminan keamanan yang kuat, terutama dari Amerika Serikat. Dukungan tersebut mencakup bantuan militer dan nonmiliter yang dinilai esensial untuk memastikan efektivitas gencatan senjata. Tanpa jaminan yang jelas, Kyiv khawatir Rusia hanya akan memanfaatkan jeda konflik untuk mengonsolidasikan kekuatan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa negaranya tetap berhati-hati terhadap setiap skema gencatan senjata yang tidak disertai mekanisme pengawasan dan penegakan yang kuat.
Perkembangan Terbaru Pembicaraan
Sebelum operasi militer AS yang menargetkan Maduro, Witkoff sempat menyampaikan adanya kemajuan dalam diskusi mengenai jaminan keamanan bagi Ukraina. Ia menyebut pembicaraan yang melibatkan dirinya, Rubio, dan Kushner dari pihak AS, serta penasihat keamanan nasional dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Ukraina, berjalan produktif.
Diskusi tersebut difokuskan pada penguatan jaminan keamanan dan pengembangan mekanisme dekonfliksi yang efektif untuk membantu mengakhiri perang serta mencegah konflik serupa di masa depan.
Peran Prancis dan Inggris
Prancis bersama Inggris selama ini berperan aktif mengoordinasikan upaya multinasional untuk menopang gencatan senjata. Meski demikian, Paris sejauh ini baru menyampaikan gambaran umum rencana tersebut tanpa rincian teknis yang final.
Dalam skema yang dibahas, Ukraina akan tetap menjadi garis pertahanan pertama terhadap potensi agresi Rusia. Koalisi berencana memperkuat posisi tersebut melalui pelatihan militer, penyediaan persenjataan, serta dukungan intelijen.
Macron juga sempat menyampaikan kemungkinan pengerahan pasukan Eropa di luar garis depan Ukraina sebagai langkah pencegahan. Namun, gagasan ini masih menuai perdebatan di antara negara-negara peserta.
Hambatan Politik dan Legal
Zelensky mengakui bahwa rencana pengerahan pasukan Eropa masih menghadapi banyak hambatan. Banyak rincian penting belum disepakati, dan tidak semua negara siap mengirimkan personel militer ke Ukraina.
Selain itu, sejumlah negara memerlukan persetujuan parlemen sebelum dapat mengerahkan pasukan. Zelensky menekankan bahwa kontribusi tidak harus selalu berupa kehadiran militer, tetapi juga dapat berupa senjata, teknologi, intelijen, sanksi, serta bantuan keuangan dan kemanusiaan.
Masa Depan Coalition of the Willing
Menurut Zelensky, keberlangsungan Coalition of the Willing sangat bergantung pada kesiapan negara-negara anggota untuk meningkatkan peran mereka. Ia menilai kehadiran Inggris dan Prancis memiliki arti strategis, mengingat keduanya merupakan kekuatan nuklir di Eropa Barat.
Pernyataan Zelensky menegaskan bahwa pertemuan di Paris bukan sekadar forum diplomatik, melainkan ujian nyata bagi soliditas koalisi. Tanpa komitmen yang jelas dan terkoordinasi, upaya menciptakan keamanan berkelanjutan bagi Ukraina berisiko kehilangan momentum di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah.
Baca Juga : Pergerakan Tanah Masih Terjadi di Lokasi Sinkhole Limapuluh Kota
Cek Juga Artikel Dari Platform : jelajahhijau

