Bencana banjir kembali melanda wilayah Sumatra Selatan. Kali ini, ratusan rumah warga di Kecamatan Semendawai Suku Tiga, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, terendam air akibat luapan Sungai Macak. Peristiwa ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat tinggi yang terjadi secara terus-menerus selama tiga hari terakhir.
Luapan air sungai tersebut tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga berdampak luas pada aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Anak-anak sekolah terpaksa diliburkan karena akses menuju sekolah terendam air, sementara sektor pertanian mengalami kerugian besar akibat sawah yang gagal panen.
Hujan Ekstrem Picu Luapan Sungai Macak
Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah OKU Timur dalam beberapa hari terakhir menyebabkan debit Sungai Macak meningkat drastis. Sungai yang membelah Kecamatan Semendawai Suku Tiga dan kawasan Belitang Raya itu tidak lagi mampu menampung volume air, sehingga meluap ke permukiman warga.
Air banjir masuk ke rumah-rumah penduduk dengan ketinggian bervariasi antara 40 hingga 70 sentimeter. Kondisi ini membuat warga kesulitan beraktivitas, terutama di wilayah yang berada di dataran rendah dan dekat dengan bantaran sungai.
Luapan terjadi secara cepat, sehingga sebagian warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga. Banyak perabot rumah tangga terendam air, dan beberapa rumah mengalami kerusakan ringan akibat terjangan arus.
Ratusan Rumah Terendam, Warga Mengungsi Sementara
Kepala Desa Karang Marga, Desa Karang Marga, Sutrisno, menyampaikan bahwa banjir merendam hampir seluruh wilayah desa, dari dusun satu hingga dusun empat.
Menurutnya, sebanyak 152 rumah warga terdampak langsung oleh banjir luapan Sungai Macak. Meski demikian, hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Semua dusun terdampak, dari dusun satu sampai dusun empat. Total ada 152 rumah yang terendam. Untuk korban jiwa, Alhamdulillah tidak ada,” ujar Sutrisno, dikutip dari Headline News Metro TV.
Sebagian warga memilih bertahan di rumah dengan kondisi seadanya, sementara lainnya mengungsi ke rumah kerabat yang berada di lokasi lebih tinggi. Proses evakuasi dilakukan secara mandiri karena banjir datang secara tiba-tiba.
Aktivitas Pendidikan Terganggu
Banjir ini juga berdampak pada dunia pendidikan. Sejumlah sekolah di wilayah terdampak terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar karena akses jalan terendam dan dinilai membahayakan keselamatan siswa.
Anak-anak sekolah tidak dapat berangkat karena genangan air cukup dalam dan arus masih deras di beberapa titik. Pihak sekolah dan pemerintah desa sepakat untuk meliburkan siswa sementara hingga kondisi air surut dan akses kembali aman.
Langkah ini diambil untuk mencegah risiko kecelakaan, mengingat sebagian siswa harus melewati jalan yang berada dekat dengan aliran sungai atau parit besar.
Sawah Gagal Panen, Petani Alami Kerugian Besar
Dampak paling berat dirasakan sektor pertanian. Luapan Sungai Macak menyebabkan ratusan hektar sawah terendam air. Tanaman padi yang baru ditanam hanyut terbawa arus banjir, sehingga petani terancam gagal panen.
Bagi masyarakat Semendawai Suku Tiga dan wilayah Belitang Raya, pertanian padi merupakan sumber penghidupan utama. Gagal panen ini berarti hilangnya pendapatan yang seharusnya mereka terima dalam beberapa bulan ke depan.
Sejumlah petani mengaku baru saja menanam benih padi sebelum banjir terjadi. Hujan yang awalnya diharapkan membawa berkah justru berubah menjadi musibah karena debit air sungai yang melonjak tajam.
Kerugian ekonomi diperkirakan cukup besar, mengingat biaya pengolahan lahan, pembelian benih, dan pupuk sudah dikeluarkan oleh petani.
Penanganan Masih Terbatas
Hingga saat ini, penanganan banjir masih bersifat darurat dan dilakukan secara terbatas. Pemerintah desa bersama warga setempat melakukan pemantauan kondisi air dan membantu warga yang membutuhkan pertolongan.
Namun, keterbatasan peralatan dan sumber daya membuat upaya penanganan belum optimal. Warga berharap pemerintah daerah Kabupaten OKU Timur dan Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan segera turun tangan memberikan bantuan.
Bantuan yang diharapkan meliputi kebutuhan pokok, perlengkapan kebersihan, serta bantuan pertanian bagi petani yang mengalami gagal panen.
Warga Harapkan Solusi Jangka Panjang
Selain bantuan darurat, warga juga berharap adanya solusi jangka panjang untuk mencegah banjir serupa terulang. Sungai Macak disebut kerap meluap setiap musim hujan, namun hingga kini belum ada penanganan menyeluruh.
Normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, serta penguatan tanggul menjadi beberapa usulan yang disampaikan masyarakat. Mereka berharap pemerintah dapat menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi serius.
Banjir yang terjadi berulang tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga berdampak pada psikologis warga, terutama anak-anak dan lansia yang harus menghadapi kondisi darurat berulang kali.
Ancaman Cuaca Masih Mengintai
Berdasarkan prakiraan cuaca, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih dapat terjadi di wilayah Sumatra Selatan dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini membuat warga di sekitar bantaran Sungai Macak diminta tetap waspada.
Pemerintah desa terus mengimbau masyarakat untuk memantau perkembangan cuaca dan ketinggian air sungai, serta segera mengungsi jika kondisi memburuk.
Banjir luapan Sungai Macak di OKU Timur menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca ekstrem semakin nyata dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Diperlukan sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk penanganan cepat sekaligus pencegahan jangka panjang agar risiko bencana serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
Baca Juga : UMP Aceh 2026 Naik Jadi Rp3,93 Juta, Ini Pertimbangannya
Cek Juga Artikel Dari Platform : suarairama

