capoeiravadiacao.org Gagasan monorel Jakarta lahir dari kebutuhan mendesak akan sistem transportasi massal yang modern, cepat, dan mampu mengurai kemacetan ibu kota. Pada masa kepemimpinan Sutiyoso, Jakarta menghadapi pertumbuhan kendaraan pribadi yang tidak seimbang dengan kapasitas jalan. Monorel diproyeksikan menjadi solusi visioner yang melayang di atas jalan tanpa memakan ruang darat.
Konsep ini dianggap progresif pada masanya. Banyak kota besar dunia telah mengembangkan monorel sebagai moda transportasi alternatif yang efisien dan relatif ramah lingkungan. Jakarta pun ingin menempatkan diri sejajar dengan kota-kota global melalui proyek tersebut.
Pembangunan Tiang Monorel Dimulai
Tahap awal proyek ditandai dengan pembangunan ratusan tiang beton di sejumlah ruas strategis, termasuk di kawasan Jalan HR Rasuna Said. Tiang-tiang itu berdiri menjulang di tengah kawasan bisnis, menjadi simbol bahwa Jakarta sedang menuju era transportasi modern.
Namun, pembangunan tersebut berjalan tidak utuh. Hanya struktur tiang yang terbangun, sementara jalur rel dan rangkaian kereta tak kunjung terwujud. Seiring waktu, tiang monorel justru berubah menjadi pemandangan asing yang mengganggu estetika kota.
Proyek Terhenti dan Mulai Dipertanyakan
Berjalannya waktu, proyek monorel mulai menuai kritik. Pergantian kepemimpinan daerah membawa perubahan kebijakan dan prioritas pembangunan. Monorel dianggap tidak lagi sejalan dengan arah transportasi massal baru yang lebih terintegrasi.
Persoalan pendanaan juga menjadi hambatan besar. Skema kerja sama dengan pihak swasta tidak berjalan mulus. Investor mundur, sementara pemerintah daerah enggan menanggung risiko finansial yang besar. Akibatnya, proyek monorel kehilangan momentum dan akhirnya berhenti total.
Tiang Monorel Jadi Simbol Proyek Mangkrak
Selama bertahun-tahun, tiang monorel berdiri tanpa fungsi. Bagi sebagian warga, struktur beton itu menjadi simbol kegagalan perencanaan dan lemahnya kesinambungan kebijakan publik. Tiang-tiang tersebut juga memunculkan persoalan keselamatan, tata kota, dan citra Jakarta sebagai kota modern.
Dalam berbagai kesempatan, Sutiyoso mengakui bahwa proyek monorel adalah bagian dari idealisme membangun Jakarta lebih maju. Namun, ia juga menyadari bahwa dinamika politik dan kebijakan membuat proyek tersebut tak pernah selesai.
Pembongkaran Dimulai, Babak Baru Tata Kota
Ketika pembongkaran tiang monorel akhirnya dimulai, momen tersebut menjadi penanda berakhirnya satu babak panjang dalam sejarah transportasi Jakarta. Hadirnya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno menegaskan bahwa pemerintah daerah memilih menutup lembaran lama dan membuka ruang bagi perencanaan kota yang lebih realistis.
Sutiyoso sendiri mengaku lega. Baginya, pembongkaran tersebut bukan sekadar menghapus jejak proyek lama, tetapi juga mengakhiri polemik panjang yang melekat pada namanya.
Evaluasi Besar Proyek Infrastruktur
Kasus monorel Jakarta memberikan pelajaran penting tentang pembangunan infrastruktur di kota besar. Proyek berskala besar membutuhkan perencanaan matang, kepastian pendanaan, dan kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan.
Tanpa komitmen jangka panjang, proyek ambisius berisiko mangkrak dan membebani ruang kota. Monorel Jakarta menjadi contoh bagaimana visi besar bisa kehilangan arah ketika tidak ditopang fondasi kebijakan yang kuat.
Dari Monorel ke Transportasi Terintegrasi
Setelah era monorel berlalu, Jakarta bergerak ke arah sistem transportasi yang lebih terintegrasi. Kehadiran moda transportasi berbasis rel lain menunjukkan pendekatan yang lebih realistis dan berorientasi pada kebutuhan warga.
Pembongkaran tiang monorel membuka ruang fisik dan simbolik bagi Jakarta untuk menata ulang prioritas pembangunan. Pemerintah kini lebih menekankan konektivitas, integrasi antarmoda, dan keberlanjutan jangka panjang.
Penutup: Warisan dan Pelajaran
Kisah monorel Sutiyoso bukan sekadar cerita proyek mangkrak. Ia adalah refleksi dari tantangan besar membangun kota megapolitan dengan dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang kompleks.
Sutiyoso meninggalkan warisan berupa keberanian bermimpi besar. Meski monorel tidak terwujud, pelajaran dari proyek ini menjadi bekal penting bagi generasi pemimpin berikutnya agar pembangunan Jakarta tidak hanya ambisius, tetapi juga konsisten, terencana, dan berkelanjutan.

Cek Juga Artikel Dari Platform pontianaknews.web.id
