Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Abdur Rozaki, mengingatkan ancaman serius populisme identitas di era digital yang berpotensi merusak kohesi sosial masyarakat.
Dalam pidato pengukuhannya, ia menyoroti bagaimana perkembangan teknologi digital, khususnya media sosial, telah mengubah cara masyarakat membentuk opini dan identitas kolektif.
Fenomena Echo Chamber di Media Sosial
Rozaki menjelaskan bahwa media sosial menciptakan apa yang disebut sebagai ruang gema atau echo chamber, yaitu kondisi di mana seseorang hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangannya.
Akibatnya, perbedaan pandangan menjadi semakin tajam karena tidak ada ruang dialog yang sehat. Hal ini memperkuat polarisasi, terutama yang berbasis agama dan etnis.
Menurutnya, algoritma digital secara tidak langsung memperkuat kondisi tersebut dengan menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna.
Populisme Identitas sebagai Alat Politik
Rozaki menilai populisme identitas kini kerap dimanfaatkan sebagai alat politik jangka pendek. Identitas agama maupun etnis digunakan untuk menarik dukungan massa secara cepat.
Namun, strategi ini dinilai berbahaya karena dapat memecah masyarakat menjadi kelompok-kelompok yang saling berseberangan.
Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang lebih loyal pada kelompok identitas dibandingkan dengan identitas sebagai warga negara.
Fenomena Matinya Kepakaran
Selain itu, Rozaki mengangkat fenomena yang disebut sebagai “matinya kepakaran” di era digital.
Dalam kondisi ini, otoritas keilmuan sering kali tergeser oleh figur populer atau influencer yang memiliki jangkauan luas di media sosial, meskipun tidak selalu memiliki kompetensi di bidang tertentu.
Hal ini membuat informasi yang beredar tidak selalu berbasis fakta atau kajian ilmiah yang valid.
Komodifikasi Identitas dan Risiko Hoaks
Rozaki juga menyoroti komodifikasi agama dan etnisitas yang semakin marak di ruang digital.
Identitas sering dijadikan alat mobilisasi politik melalui penyebaran hoaks dan isu SARA yang memancing emosi publik.
Menurutnya, jika identitas terus digunakan sebagai alat politik, maka fungsinya sebagai perekat sosial akan hilang dan justru berubah menjadi sumber konflik.
Pentingnya Literasi Digital
Sebagai solusi, Rozaki mendorong penguatan literasi digital di tengah masyarakat.
Pemahaman yang baik terhadap informasi, kemampuan memilah fakta, serta kesadaran akan keberagaman menjadi kunci untuk menjaga persatuan bangsa.
Selain itu, nilai-nilai kewargaan juga perlu diperkuat agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh narasi yang bersifat provokatif.
Kesimpulan
Peringatan yang disampaikan oleh Rozaki menjadi refleksi penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Tanpa kesadaran kolektif, populisme identitas berpotensi merusak fondasi sosial yang telah dibangun.
Oleh karena itu, literasi digital dan sikap kritis menjadi benteng utama dalam menjaga keutuhan masyarakat di era modern.
Baca Juga : Pemerintah Siapkan Strategi Industri Plastik
Cek Juga Artikel Dari Platform : baliutama

