capoeiravadiacao.org Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan kritik keras terhadap praktik buzzer politik yang dinilai kerap menyebarkan narasi negatif demi kepentingan tertentu. Kritik tersebut disampaikan dengan nada emosional dan reflektif, terutama ketika menyangkut pengalaman pribadinya saat turun langsung ke lokasi bencana pada masa pengabdiannya di pemerintahan.
Megawati menilai bahwa tindakan menjelekkan seseorang, terlebih dalam konteks kemanusiaan, merupakan praktik yang tidak beretika. Ia mempertanyakan nilai perikemanusiaan para pelaku buzzer yang menurutnya rela mengorbankan empati demi imbalan materi. Pernyataan ini menjadi sorotan karena disampaikan di hadapan publik yang membahas isu mitigasi bencana dan pertolongan korban.
Pengalaman Langsung di Lokasi Bencana
Dalam pidatonya, Megawati membagikan pengalaman saat mengunjungi wilayah terdampak bencana. Ia mengisahkan momen ketika menemukan seorang korban yang terjebak di pohon dalam kondisi memprihatinkan. Korban tersebut dilaporkan telah bertahan selama beberapa hari, namun masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Megawati menuturkan bahwa situasi tersebut menggambarkan betapa krusialnya kehadiran negara dan pemimpin di tengah bencana. Keputusan cepat dan empati, menurutnya, menjadi faktor penentu antara keselamatan dan kehilangan nyawa. Ia menegaskan bahwa kisah tersebut bukanlah cerita yang dilebih-lebihkan, melainkan pengalaman nyata yang ia saksikan sendiri.
Kritik terhadap Narasi Negatif Buzzer
Megawati mengaku heran ketika pengalaman turun ke lapangan tersebut justru dipelintir oleh pihak-pihak tertentu. Ia menyebut ada buzzer yang membangun narasi seolah kehadirannya di lokasi bencana hanya untuk pencitraan. Menurutnya, narasi semacam itu mengabaikan substansi kemanusiaan yang seharusnya menjadi fokus utama.
Ia mempertanyakan motif di balik penyebaran narasi negatif tersebut. Megawati menyebut bahwa jika seseorang menjelekkan orang lain demi uang, maka nilai kemanusiaan patut dipertanyakan. Kritik ini diarahkan pada fenomena buzzer yang dinilai semakin agresif dalam membentuk opini publik tanpa mempertimbangkan dampak sosial.
Etika dan Moral dalam Ruang Publik
Dalam pandangan Megawati, ruang publik seharusnya menjadi tempat diskusi yang sehat dan bermartabat. Kritik dan perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi. Namun, ketika kritik berubah menjadi serangan personal yang mengabaikan fakta dan empati, maka demokrasi kehilangan ruhnya.
Ia menekankan bahwa bencana adalah tragedi kemanusiaan. Siapa pun yang hadir untuk membantu seharusnya diapresiasi, bukan dicurigai dengan prasangka politik. Menurutnya, mempolitisasi bencana adalah tindakan yang melukai perasaan korban dan relawan yang bekerja di lapangan.
Bencana sebagai Ujian Nilai Kemanusiaan
Megawati menilai bahwa bencana alam merupakan ujian bagi nilai kemanusiaan bangsa. Dalam situasi darurat, perbedaan politik seharusnya dikesampingkan. Fokus utama adalah menyelamatkan nyawa dan memulihkan kehidupan masyarakat terdampak.
Ia mengingatkan bahwa di lapangan, yang dibutuhkan korban bukan narasi di media sosial, melainkan bantuan nyata. Kehadiran pemimpin, relawan, dan aparat di lokasi bencana memiliki makna psikologis yang besar bagi korban. Hal tersebut, menurutnya, sering kali tidak dipahami oleh mereka yang hanya melihat dari kejauhan.
Fenomena Buzzer dan Dampaknya
Fenomena buzzer politik menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas ini dinilai mampu memengaruhi opini publik secara cepat. Namun, jika tidak diimbangi dengan tanggung jawab etis, dampaknya bisa merusak tatanan sosial.
Megawati menyoroti bahwa buzzer sering kali bekerja dengan logika hitam-putih. Seseorang diposisikan sebagai benar atau salah tanpa konteks yang utuh. Dalam kasus bencana, pendekatan ini dinilai sangat tidak sensitif dan berpotensi menambah luka bagi korban.
Ajakan untuk Mengedepankan Empati
Melalui kritiknya, Megawati mengajak semua pihak untuk kembali mengedepankan empati. Ia menekankan bahwa kemanusiaan harus menjadi nilai utama dalam setiap tindakan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan media sosial seharusnya digunakan untuk menyebarkan informasi yang membantu, bukan memperkeruh suasana. Narasi positif dan edukatif dinilai lebih bermanfaat dalam situasi krisis dibandingkan serangan personal.
Refleksi bagi Demokrasi Digital
Pernyataan Megawati membuka ruang refleksi mengenai praktik demokrasi di era digital. Kebebasan berekspresi perlu diiringi dengan tanggung jawab moral. Tanpa itu, ruang digital berpotensi menjadi arena saling menjatuhkan yang menjauhkan masyarakat dari nilai kebersamaan.
Megawati menegaskan bahwa kritik boleh disampaikan, namun harus berlandaskan fakta dan niat baik. Demokrasi, menurutnya, tidak akan tumbuh sehat jika dipenuhi kebencian dan manipulasi.
Penutup
Kecaman Megawati terhadap buzzer politik menjadi pengingat penting tentang batas antara kritik dan dehumanisasi. Di tengah maraknya narasi digital, nilai kemanusiaan tidak boleh dikorbankan demi keuntungan sesaat. Pengalaman langsung di lokasi bencana yang ia sampaikan menegaskan bahwa empati dan tindakan nyata jauh lebih bermakna daripada perang opini. Pesan ini diharapkan dapat menjadi refleksi bersama agar ruang publik, khususnya di masa krisis, tetap dijaga dengan etika, empati, dan rasa kemanusiaan.

Cek Juga Artikel Dari Platform radarjawa.web.id
