Pergerakan Tanah Masih Terjadi di Lokasi Sinkhole Limapuluh Kota
Fenomena tanah ambles atau sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, masih menunjukkan aktivitas yang mengkhawatirkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat memastikan bahwa pergerakan tanah di sekitar lokasi kejadian belum sepenuhnya berhenti, sehingga potensi bahaya terhadap keselamatan warga masih terus dipantau secara ketat.
Peristiwa ini terjadi di Nagari Situjua Batua, wilayah Kecamatan Situjuah Limo Nagari, yang selama ini dikenal sebagai kawasan pertanian produktif. Namun, di balik kesuburan tanahnya, wilayah tersebut menyimpan kerentanan geologi yang kini mulai terungkap.
BPBD Pastikan Tanah Masih Bergerak
Komandan Regu Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Limapuluh Kota, Alexandra, menyatakan bahwa hasil pemantauan di lapangan menunjukkan pergerakan tanah masih berlangsung. Kondisi ini membuat pihak BPBD mengambil langkah pengamanan dengan memasang garis pembatas di sekitar lokasi sinkhole.
Pemasangan garis polisi bertujuan untuk mencegah warga mendekat ke area berbahaya. Pihak berwenang khawatir lubang ambles dapat melebar atau mengalami longsoran susulan yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Ukuran Sinkhole Terbilang Besar
Berdasarkan pendataan awal yang dilakukan petugas BPBD, sinkhole yang terbentuk memiliki dimensi yang cukup signifikan. Lubang ambles tersebut tercatat memiliki panjang sekitar 10 meter, lebar tujuh meter, dengan kedalaman mencapai 5,7 meter.
Ukuran tersebut menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar amblesan kecil, melainkan kejadian geologi serius yang memerlukan penanganan dan kajian lebih lanjut. Kondisi tanah di sekitar lubang juga terpantau labil, sehingga risiko runtuhan tambahan masih terbuka.
Antisipasi Risiko Terburuk
BPBD Limapuluh Kota menegaskan bahwa langkah pencegahan dilakukan untuk mengantisipasi skenario terburuk. Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan lubang ambles semakin meluas dan mengancam rumah warga, lahan pertanian, serta akses jalan di sekitarnya.
Petugas di lapangan terus melakukan pemantauan visual dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menentukan langkah lanjutan. Masyarakat diminta mematuhi seluruh imbauan dan tidak melanggar garis pembatas yang telah dipasang.
Imbauan Tegas kepada Masyarakat
Alexandra mengingatkan masyarakat agar tidak mencoba mendekati lokasi sinkhole, meskipun hanya untuk melihat dari dekat. Rasa penasaran, menurutnya, justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan, mengingat kondisi tanah di sekitar lubang masih sangat labil.
BPBD juga mengimbau warga untuk segera melapor jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah baru, seperti retakan, penurunan permukaan tanah, atau perubahan aliran air di sekitar lokasi.
Penjelasan Ahli Geologi
Secara terpisah, ahli Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, Ade Edward, menjelaskan bahwa fenomena sinkhole di wilayah Situjua Batua tidak terlepas dari kondisi geologi setempat. Kawasan ini merupakan daerah batu kapur atau karst yang secara alami memiliki rongga di bawah permukaan tanah.
Menurut Ade Edward, lapisan batu kapur di wilayah tersebut tertutup material hasil erupsi Gunung Sago pada masa lalu. Tutupan material vulkanik membuat karakter batuan kapur tidak terlihat secara kasat mata, sehingga wilayah tersebut tampak seperti lahan subur biasa dan dimanfaatkan masyarakat untuk bercocok tanam.
Proses Alam di Bawah Permukaan
Fenomena sinkhole umumnya terjadi ketika rongga di dalam batu kapur runtuh akibat pelarutan batuan oleh air dalam jangka waktu lama. Ketika lapisan penutup di atasnya tidak lagi mampu menopang, permukaan tanah amblas secara tiba-tiba.
Dalam kasus di Situjua Batua, kombinasi antara struktur batu kapur, aliran air bawah tanah, serta beban di permukaan diduga menjadi pemicu terjadinya sinkhole. Proses ini dapat berlangsung lama tanpa tanda-tanda di permukaan, hingga akhirnya terjadi amblesan.
Ancaman bagi Lahan Pertanian
Wilayah Nagari Situjua Batua selama ini dikenal sebagai kawasan pertanian produktif. Tanah yang subur mendorong masyarakat mengembangkan sawah dan ladang di area tersebut. Namun, keberadaan sinkhole menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan aktivitas pertanian dan keselamatan warga.
Jika pergerakan tanah terus berlanjut, lahan pertanian di sekitar lokasi berisiko mengalami kerusakan permanen. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti saluran irigasi dan jalan desa juga dapat terdampak.
Pentingnya Kajian Geologi Lanjutan
Para ahli menilai diperlukan kajian geologi lebih mendalam untuk memahami struktur bawah tanah di kawasan tersebut. Pemetaan rongga batu kapur dan aliran air bawah tanah menjadi penting untuk menentukan langkah mitigasi yang tepat.
BPBD Limapuluh Kota diharapkan dapat berkoordinasi dengan instansi teknis dan lembaga keilmuan guna melakukan studi lanjutan. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan apakah wilayah tertentu masih aman untuk dihuni atau perlu direlokasi.
Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Fenomena sinkhole ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana berbasis pengetahuan geologi. Wilayah yang tampak aman di permukaan belum tentu stabil di bawah tanah, terutama di daerah karst yang rawan amblesan.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan memahami potensi bencana di lingkungan tempat tinggal mereka. Edukasi mengenai tanda-tanda awal pergerakan tanah juga dinilai penting untuk meminimalkan risiko korban jiwa.
Pemantauan Terus Dilakukan
Hingga kini, BPBD Limapuluh Kota memastikan pemantauan akan terus dilakukan secara berkala. Setiap perkembangan kondisi tanah akan dilaporkan dan ditindaklanjuti sesuai prosedur penanggulangan bencana.
Dengan kerja sama antara pemerintah, ahli geologi, dan masyarakat, diharapkan risiko dari fenomena sinkhole ini dapat ditekan, serta keselamatan warga di sekitar Nagari Situjua Batua tetap terjaga.
Baca Juga : KPK Perpanjang Penahanan Bupati Bekasi Ade Kuswara
Cek Juga Artikel Dari Platform : liburanyuk

