Amerika Serikat dan Tiongkok dikabarkan kembali mengambil langkah strategis untuk meredakan ketegangan ekonomi global. Kedua negara disebut sepakat memperpanjang masa berlaku kesepakatan “gencatan” perang dagang yang sebelumnya ditandatangani pada Oktober lalu di Korea Selatan. Perpanjangan tersebut diperkirakan akan berlaku selama satu tahun ke depan, dan berpotensi memperpanjang stabilitas hubungan dagang hingga 2027.
Laporan ini disampaikan oleh surat kabar South China Morning Post (SCMP) yang mengutip sejumlah sumber internal. Disebutkan bahwa keputusan perpanjangan kemungkinan besar akan disetujui pada April mendatang. Para pejabat dari kedua pihak menilai langkah ini realistis dan dapat dicapai, mengingat kebutuhan ekonomi jangka pendek yang sama-sama dihadapi Washington dan Beijing.
Perpanjangan gencatan perang dagang ini dinilai memberi ruang bagi kedua negara untuk memaksimalkan manfaat ekonomi dari kesepakatan sebelumnya. Salah satu poin penting adalah komitmen pembelian baru dari pihak Beijing, yang berpotensi meningkatkan impor produk Amerika Serikat, khususnya sektor pertanian.
Bagi Amerika Serikat, peningkatan ekspor pertanian ke pasar Tiongkok memiliki arti penting, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik serta memperkuat dukungan sektor agribisnis. Sementara bagi Tiongkok, kelanjutan kesepakatan ini dapat membantu menjaga akses pasar global dan meredakan tekanan tarif yang selama ini membebani perdagangan internasional.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi melakukan kunjungan tiga hari ke Tiongkok mulai 31 Maret. Namun jadwal itu masih dalam pembahasan karena Beijing mempertimbangkan penyesuaian dengan libur Festival Qingming pada 5 April. Jika kunjungan tersebut terealisasi, pertemuan langsung antara Trump dan Presiden Xi Jinping dapat menjadi momentum penting dalam memperkuat kesepakatan dagang.
Sebelumnya, Trump dan Xi Jinping menyepakati perjanjian dagang berdurasi satu tahun dalam pertemuan di Pangkalan Udara Gimhae, Busan, Korea Selatan, pada akhir Oktober. Kesepakatan itu dipandang sebagai upaya meredakan konflik tarif yang telah berlangsung bertahun-tahun dan mengguncang ekonomi global.
Dalam perjanjian tersebut, Amerika Serikat menurunkan rata-rata tarif atas barang asal Tiongkok dari 57 persen menjadi 47 persen. Kebijakan ini termasuk memangkas separuh tarif terkait isu fentanil menjadi 10 persen. Penurunan tarif ini menjadi sinyal bahwa Washington mulai membuka ruang kompromi demi kepentingan ekonomi yang lebih luas.
Sebagai imbalannya, Tiongkok membuka peluang peningkatan impor produk pertanian dari Amerika Serikat. Langkah ini dinilai sebagai bentuk konsesi Beijing untuk menjaga hubungan dagang tetap stabil sekaligus mengamankan pasokan pangan strategis.
Para analis ekonomi menilai perpanjangan gencatan perang dagang dapat membawa dampak positif bagi pasar global. Selama beberapa tahun terakhir, ketegangan tarif antara AS dan Tiongkok telah menciptakan ketidakpastian besar dalam rantai pasok internasional, memicu fluktuasi harga komoditas, serta menekan pertumbuhan ekonomi di banyak negara.
Dengan adanya perpanjangan kesepakatan, dunia usaha dapat memperoleh kepastian lebih besar dalam perencanaan investasi dan perdagangan. Stabilitas hubungan dua ekonomi terbesar dunia juga berpotensi menurunkan tekanan inflasi global yang sempat dipicu oleh kenaikan tarif impor.
Namun demikian, sejumlah pihak mengingatkan bahwa gencatan ini masih bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar konflik struktural antara kedua negara. Persaingan teknologi, isu keamanan nasional, serta dominasi ekonomi global tetap menjadi sumber ketegangan jangka panjang.
Meski begitu, langkah memperpanjang kesepakatan dianggap sebagai strategi pragmatis. Baik Washington maupun Beijing sama-sama membutuhkan ruang bernapas untuk menjaga pertumbuhan ekonomi domestik, terutama di tengah tantangan global seperti perlambatan ekonomi, ketidakpastian energi, dan perubahan geopolitik.
Jika benar perpanjangan ini disepakati hingga 2027, maka dunia dapat memasuki periode stabilitas perdagangan yang lebih panjang. Namun, keberlanjutan kesepakatan akan sangat bergantung pada dinamika politik dalam negeri kedua negara, serta bagaimana kepentingan strategis mereka berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, stabilitas hubungan dagang AS-Tiongkok sangat penting karena kedua negara merupakan mitra dagang utama dunia. Ketegangan antara keduanya selalu berdampak pada pasar ekspor-impor, investasi, hingga harga komoditas global.
Dengan demikian, kabar perpanjangan gencatan perang dagang ini menjadi sinyal positif, meskipun tetap perlu dicermati sebagai bagian dari strategi geopolitik dan ekonomi jangka panjang antara dua kekuatan besar dunia.
Baca juga : Petugas Pasang Tiang Penyangga Tembok SD Hampir Roboh di Jakbar
Cek Juga Artikel Dari Platform : georgegordonfirstnation

