capoeiravadiacao.org Isu reformasi kepolisian kembali mencuat ke ruang publik setelah pernyataan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Abraham Samad, yang menyebut bahwa perubahan di tubuh Polri baru bisa dianggap berhasil apabila pucuk pimpinan Kapolri diganti. Pernyataan ini muncul setelah pertemuan sejumlah tokoh nasional dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sebuah diskusi tertutup yang belakangan menjadi sorotan media.
Wacana ini bukan hal baru dalam dinamika politik dan penegakan hukum Indonesia. Reformasi Polri telah lama menjadi agenda penting sejak era reformasi, namun selalu menghadapi tantangan besar dalam implementasinya. Ketika isu ini kembali dibahas di tingkat elite, publik pun menaruh perhatian besar terhadap arah pembenahan institusi kepolisian ke depan.
Pertemuan Tokoh-Tokoh Nasional di Rumah Presiden
Menurut Abraham Samad, pertemuan tersebut dihadiri beberapa tokoh yang dikenal vokal dalam isu hukum dan tata kelola negara. Mereka antara lain Susno Duadji, Said Didu, Siti Zuhro, serta Abraham Samad sendiri.
Diskusi yang berlangsung disebut banyak menyoroti kondisi internal Polri dan urgensi reformasi yang lebih nyata. Dalam pandangan Abraham, pertemuan itu menghasilkan kesepahaman bahwa reformasi kepolisian harus dilakukan secara serius, bukan sekadar retorika.
Tokoh-tokoh yang hadir menilai bahwa reformasi struktural tidak cukup jika tidak disertai perubahan kepemimpinan di level tertinggi.
Kapolri sebagai Simbol Reformasi Institusi
Dalam pernyataannya, Abraham Samad menyebut bahwa reformasi Polri baru bisa dinyatakan ada dan berhasil apabila Kapolri, yaitu Listyo Sigit Prabowo, diganti. Pandangan ini menempatkan posisi Kapolri sebagai simbol penting dalam arah perubahan institusi.
Bagi sebagian pengamat, pergantian pimpinan memang sering dianggap sebagai langkah awal untuk membangun kultur baru dalam organisasi besar. Namun, di sisi lain, reformasi institusi kepolisian juga memerlukan pembenahan sistemik yang jauh lebih luas, termasuk transparansi, akuntabilitas, serta penguatan pengawasan internal.
Pernyataan Abraham membuka kembali debat lama: apakah reformasi cukup dengan mengganti pemimpin, atau harus disertai perubahan mendalam dalam struktur dan budaya kerja?
Sorotan Susno Duadji tentang Reformasi Kepolisian
Abraham mengungkapkan bahwa Susno Duadji banyak memberikan sorotan tajam dalam diskusi tersebut. Susno dikenal sebagai mantan pejabat tinggi Polri yang kerap mengkritisi persoalan internal kepolisian.
Dalam pandangannya, reformasi kepolisian harus menyentuh akar persoalan, termasuk profesionalisme aparat, independensi penegakan hukum, serta pencegahan penyalahgunaan kewenangan. Kritik Susno sering kali menekankan bahwa Polri harus kembali pada fungsi utamanya sebagai pelindung masyarakat, bukan alat kepentingan tertentu.
Diskusi ini memperlihatkan adanya keresahan dari tokoh-tokoh senior terhadap citra dan kinerja Polri di mata publik.
Reformasi Polri dan Kepercayaan Masyarakat
Reformasi Polri selalu berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, institusi kepolisian menghadapi berbagai tantangan, mulai dari isu kekerasan aparat, dugaan korupsi, hingga penanganan kasus-kasus besar yang dinilai belum transparan.
Ketika kepercayaan publik menurun, reformasi menjadi kebutuhan mendesak. Polisi sebagai institusi penegak hukum harus mampu menunjukkan integritas dan profesionalisme agar legitimasi negara tetap kuat.
Dalam konteks ini, tuntutan pergantian Kapolri dipandang sebagai bagian dari upaya memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
Dimensi Politik dalam Reformasi Kepolisian
Pembahasan reformasi Polri tidak bisa dilepaskan dari dimensi politik. Kepolisian adalah institusi strategis yang memiliki peran penting dalam stabilitas negara, keamanan, dan penegakan hukum. Karena itu, perubahan di level pimpinan selalu memiliki konsekuensi politik yang besar.
Pertemuan tokoh-tokoh dengan Presiden Prabowo juga memunculkan spekulasi bahwa pemerintah sedang mengevaluasi arah reformasi institusi keamanan. Namun, belum ada pernyataan resmi dari Istana terkait apakah pergantian Kapolri benar-benar menjadi agenda yang akan ditempuh.
Publik kini menunggu langkah konkret pemerintah dalam merespons masukan para tokoh tersebut.
Reformasi Tidak Hanya Soal Pergantian Pimpinan
Meski pergantian Kapolri menjadi sorotan utama, banyak pihak mengingatkan bahwa reformasi Polri harus lebih komprehensif. Pembenahan sistem rekrutmen, peningkatan kesejahteraan aparat, penguatan pengawasan eksternal, serta reformasi budaya organisasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Reformasi juga harus memastikan bahwa Polri bekerja secara profesional dan independen, bebas dari intervensi politik maupun kepentingan ekonomi. Tanpa perubahan struktural, pergantian pimpinan berisiko hanya menjadi solusi sementara.
Karena itu, diskusi reformasi Polri perlu melibatkan masyarakat sipil, akademisi, serta lembaga pengawas agar hasilnya lebih berkelanjutan.
Penutup
Pernyataan Abraham Samad bahwa reformasi Polri baru bisa berhasil jika Kapolri diganti kembali menghidupkan perdebatan tentang pembenahan institusi kepolisian. Pertemuan sejumlah tokoh dengan Presiden Prabowo menunjukkan bahwa isu ini menjadi perhatian serius di level elite nasional. Namun, reformasi sejati membutuhkan langkah yang lebih luas daripada sekadar pergantian pimpinan. Publik kini menanti apakah wacana ini akan berujung pada kebijakan konkret untuk memperkuat Polri sebagai institusi yang profesional, transparan, dan dipercaya masyarakat.

Cek Juga Artikel Dari Platform liburanyuk.org
